Anggota DPRD Jatim, Nilai SPAB Bermanfaat bagi Sekolah

0

Probolinggo, (pawartajatim.com) – Kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) harus terus dilaksanakan. Tidak hanya diadakan di satuan pendidikan setingkat SMA sederajat, tapi juga di kalangan lainnya. Hal ini diungkapkan anggota DPRD Jawa Timur/Jatim Komisi E Hasan Irsyad.

Menurut dia, SPAB sangat bermanfaat bagi peserta didik karena bisa menumbuhkan kepedulian terhadap risiko dan pengurangan bencana. “Kami akan terus hadir dalam kegiatan SPAB di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Sekaligus memantau apakah penggunaan anggarannya tepat atau tidak,” katanya ketika membuka kegiatan SPAB di SMAN 1 Kota Probolinggo, Rabu (9/8).

SPAB diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dengan menggandeng Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur sebagai tenaga fasilitatornya. SPAB di SMAN 1 Kota Probolinggo diadakan pada Rabu dan Kamis, 9-10 Agustus 2023.

Pentingnya SPAB juga diungkapkan Kepala SMAN 1 Kota Probolinggo Muhammad Zaini. Menurutnya, masalah kebencanaan perlu diintegrasikan dengan pembelajaran di sekolah. “Sehingga nantinya bisa menumbuhkembangkan kepedulian siswa terhadap bencana,” ujarnya.

Penata Penanggulangan Bencana (PB)  Ahli Madya BPBD Jatim Sriyono juga mengapresiasi Hasan Irsyad yang selalu hadir saat bencana terjadi. Ia juga mengungkapkan  dari 14 potensi ancaman bencana yang ada di Jatim, 13 di antaranya ada di kabupaten dan Kota Probolinggo. “Hanya likuifaksi saja yang tidak ada,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, SPAB punya peran penting dalam diseminasi kebencanaan. Terutama kepada satuan pendidikan. Hadir dalam pembukaan ini Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Probolinggo Kusnadi dan Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo.

Di hari pertama, peserta yang terdiri dari para stakeholder sekolah diberikan materi pengurangan risiko dasar dan potensi bencana di Kota Probolinggo. Dilanjutkan pembuatan dokumen kajian risiko bencana dan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS).

Sedangkan para siswa berlatih menggunakan bebat bidai, menonton videotron tentang kebencanaan dan membaca buku di Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena). Hari kedua, peserta dari kalangan siswa mempraktikkan bebat bidai, penanganan korban luka dan cedera, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Juga edukasi pemadaman kebakaran dengan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan tradisional (APAT). Acara ditutup oleh Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo disertai dengan penyerahan dokumen kajian risiko bencana (KRB) dan TSBS. (rizki)

Mendikbud : Kampus Mengajar, Tingkatkan Kualitas Pembelajaran SD dan SMP

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, menyebut Kampus Mengajar sebagai salah satu program unggulan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk berkontribusi meningkatkan kualitas pembelajaran di jenjang SD dan SMP.

“Kampus Mengajar sebagai salah satu program unggulan MBKM telah berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran di jenjang SD dan SMP,” kata Nadiem saat melepas 21.409 mahasiswa untuk bertugas dalam Program Kampus Merdeka di 34 provinsi secara virtual, Kamis (10/8).

Nadiem mengatakan, perjalanan panjang MBKM telah membuktikan bahwa dalam menghadirkan kemerdekaan dalam belajar, mahasiswa tergerak untuk berkreasi dan berinovasi sebagai persiapan mengarungi lautan luas setelah lulus dari perguruan tinggi.

“Dan, juga untuk memberikan kontribusi bagi sesama,” ujar Nadiem. Selama masa penugasan, lanjut Nadiem, mahasiswa akan berkolaborasi secara aktif dalam menyusun strategi pembelajaran literasi dan numerasi, melakukan pendampingan dalam pemanfaatan dan pengelolaan buku bacaan bermutu, serta membantu guru dan tenaga kependidikan dalam mengakselerasi adaptasi teknologi yang akan membantu proses belajar mengajar.

Pada angkatan pertama hingga angkatan kelima, Program Kampus Mengajar telah mengirim lebih dari 91 ribu peserta mahasiswa untuk bertugas di lebih dari 21.000 sekolah sasaran pada jenjang SD dan SMP. Selanjutnya, pada angkatan keenam, program ini memperluas jangkauan sekolah sasaran dengan menambahkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sebelum melepas peserta Kampus Mengajar yang akan memulai penugasan pada pekan mendatang, Nadiem menyampaikan harapannya agar para mahasiswa memiliki semangat yang jauh lebih besar untuk memanfaatkan kesempatan yang berharga ini dengan sebaik mungkin.

“Ambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari ibu dan bapak guru dan kepala sekolah yang sudah berpengalaman dalam mengajar dan menjadi pemimpin, dan jangan ragu untuk berbagi pengetahuan yang adik-adik miliki kepada pelajar di sekolah sasaran masing-masing sebab transfer ilmu dan pengalaman adalah kunci dari keberlanjutan Merdeka Belajar. Selamat berjuang, jadilah garda depan yang memimpin gerakan merdeka belajar,” terangnya.

Sebagai program yang berorientasi pada peningkatan kompetensi literasi dan numerasi peserta didik, Kampus Mengajar menjadi bagian penting dari upaya Kemendikbudristek melakukan pemulihan dan transformasi pembelajaran terutama pasca pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa tahun ke belakang.

“Sejak diluncurkan pertama kali oleh Kemendikbudristek pada 2020, program ini memegang peranan penting dalam membantu pemerintah melaksanakan upaya pemulihan dan transformasi pembelajaran pascapandemi, khususnya di satuan pendidikan dasar yang menjadi sekolah sasaran,” jelas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Iwan Syahril.

 Pada kesempatan ini, Kepala Program Kampus Mengajar, Asri Aldila Putri, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun di daerah yang telah mendukung pelaksanaan Program Kampus Mengajar.

“Kami ucapkan terima kasih atas dukungan, bimbingan, serta bantuan dari pemangku kepentingan di lingkungan Kemendikbudristek, BB/BPMP, dinas pendidikan, dan juga perguruan tinggi, sehingga program Kampus Mengajar Angkatan 6 bisa mencapai tahap pelepasan peserta,” katanya.

“Ke depannya, kami berharap bapak dan ibu juga berkenan untuk mendampingi mahasiswa yang akan bertugas,” pungkasnya. (red)

Kemendikbudristek Terjunkan 21.409 Mahasiswa Ikuti Kampus Mengajar

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menerjunkan sebanyak 21.409 mahasiswa dari seluruh Indonesia dalam program Kampus Mengajar. Sebanyak 3.643 mahasiswa di antaranya, akan diterjunkan di 734 SD/SMP di Jawa Timur untuk meningkatkan literasi anak-anak di wilayah Jawa Timur/Jatim.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim, melepas langsung sekaligus memberikan pengarahan kepada ribuan mahasiswa angkatan keenam yang mengikuti program Kampus Mengajar yang digelar di Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur di Surabaya.

Ketua BBPMP Jatim, Sujarno, mengatakan peserta Kampus Mengajar angkatan keenam di Jatim ini merupakan yang terbanyak dibandingkan provinsi lainnya. “Program Kampus Mengajar ini sejalan dengan program PDM BBPMP Jatim, yakni pemulihan pembelajaran, salah satunya berkontribusi di dalam pembangunan ekosistem literasi pendidikan di Jatim,” kata Sujarno, usai menghadiri kick off pelepasan peserta angkatan 6 di Gedung BBPMP Jatim, Kamis (10/8).

Dalam pelaksanaan Kampus Mengajar, BBPMP Jatim akan melakukan monitoring untuk memastikan para mahasiswa benar-benar menjalankan Rancangan Tindak Lanjut (RTL) yang telah disusun sebelumnya. Para mahasiswa diharapkan bisa membawa perubahan cara mengajar guru yang ada di daerah, terutama dalam hal teknologi.

“Selain itu, terlaksananya Kampus Mengajar di Jatim adalah meningkatkan kemampuan literasi di sekolah-sekolah yang masih berada di level satu dan dua. Angka literasi di Indonesia dan juga Jawa Timur masih rendah atau tidak lebih dari 50 persen,” ungkapnya.

Salah satu peserta yang juga mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Fitri Dwi Fatimah, mengaku sangat senang bisa diterima program Kampus Mengajar. Alasannya, ia ikut program ini karena ingin ikut mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Saya berencana memberikan media pembelajaran yang semenarik mungkin kepada siswa SD tempatnya mengajar nanti. Tak lupa saya juga akan mengenalkan digitalisasi serta literasi digital, sehingga tidak hanya buku, siswa juga bisa mengenal literasi digital,” terang Fitri di sela-sela mengikuti pembekalan program Kampus Mengajar.

Berbeda dari Kampus Mengajar angkatan sebelumnya, angkatan keenam ini mahasiswa bisa memilih di sekolah mana tempat mereka mengajar. Sehingga, selain bisa mengajar, peserta juga bisa sambil kuliah.

Secara nasional, total sebanyak 21.409 mahasiswa (Sarjana dan Diploma/ Sarjana Terapan) dari 708 perguruan tinggi mengikuti program Kampus Mengajar untuk ditempatkan di 4.293 sekolah tingkat SD dan SMP di 34 Provinsi di Indonesia. (red)

Kukuhkan 1.501 Wisudawan, Satu Lulusan Unesa Diterima di Taiwan

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengukuhkan sebanyak 1.501 wisudawan dari berbagai program studi. Menariknya, satu di antara wisudawan tersebut, berhasil meraih beasiswa Ministry of Education (MoE) S-2 di dua kampus ternama di Taiwan, yaitu National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) dan National Dong Hwa University (NDHU).

Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan MKes, mengatakan gelaran wisuda ke-106 yang mengusung tema ‘Wisudawan Unesa Tangguh, Kreatif, Inovatif, Adaptif, dan Terus Melaju untuk Indonesia Maju’ itu para lulusan Unesa merupakan orang-orang ‘pilihan’ yang melewati berbagai proses belajar dan perjuangan.

“Perjuangan selama kuliah menjadikan lulusan kuat mental dan karakternya. Proses belajar dalam skema MBKM membuat mereka berkompeten. Pengalaman di Unesa membuat mereka matang dan siap unjuk kebolehan, karya dan keunggulan di tempat mereka berkarir,” kata Cak Hasan ditemui usai prosesi wisuda di Graha Unesa, Lidah Wetan Surabaya, Kamis (10/8).

Kunci keberhasilan zaman ini, lanjut Cak Hasan, ada pada adaptabilitas, kreativitas, inovasi, dan komunikasi menjalin kolaborasi. Cak Hasan berpesan kepada para lulusan agar tetap rendah hati dan melakukan perubahan di mana pun berada dengan disiplin ilmu yang sudah dipelajari.

Menurut dia, gelar terbaik adalah yang punya manfaat dan dampak positif bagi masyarakat dan negara. “Lakukan sesuatu. Buat gebrakan. Jawab tantangan dan persoalan di masyarakat. Buatlah sesuatu yang bermanfaat. Itu baru lulusan Unesa. Tetap jaga karakter, jaga setiap perilaku dan perbuatan. Banggakan orang tua dan almamater. Selamat kepada semuanya. Sukses selalu,” terang Cak Hasan.

Dari 1.501 wisudawan, terdapat dua wisudawan disabilitas yang turut merayakan keberhasilannya meraih gelar sarjana. Mereka adalah Sofiyatil Ilmi dari S-1 Pendidikan Ekonomi, dan Agatha Gabriele Harijo dari S-1 Pendidikan Tata Boga. Selama prosesi wisuda itu, mereka didampingi para pendamping.

Pada periode ini, Unesa memberikan penghargaan kepada 10 lulusan terbaik dari berbagai fakultas. Mereka adalah Achmad Reza Firmansyah, mahasiswa S-2 Pendidikan Keolahragaan (IPK 4.00), Novandri Ayubi, S-3 Ilmu Keolahragaan (IPK 4.00), Lutfhi Rezang Roy Vansyah, S-1 Ekonomi (IPK 3.93), Keysha Azhalia Wahono, S-1 Keolahragaan (IPK 3.91), dan Aira Rahmatilah, S-1 Sistem Informasi (IPK 3.91).

Selanjutnya, Eni Fibrianti, S-1 Ilmu Administrasi Negara (IPK 3.89), Shela Sonia, S-1 Pendidikan Biologi (IPK 3.92), Ayuningtyas Prameswary, S-1 Pendidikan Seni Rupa (IPK 3.90), Shela Dwi Widhya Sari, prodi S-1 Manajemen Pendidikan (IPK 3.91), dan Chika Rizki Amalia, prodi D-3 Transportasi (IPK 3.56).

Di antara lulusan tersebut, ada yang sudah diterima S-2 di Taiwan. Dia adalah Aira Rahmatilah lulusan S-1 Sistem Informasi. Aira termasuk mahasiswa berprestasi yang mendapat beasiswa Bidikmisi dan beasiswa lainnya selama kuliah di Unesa.

Selain itu, perempuan dari keluarga sederhana asal Gresik itu juga mendapat beasiswa Ministry of Education (MoE) S-2 di dua kampus ternama Taiwan, yaitu National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) dan National Dong Hwa University (NDHU).

Setelah berbicara dengan orang tua dan dosennya, Aira memilih kuliah di Department of Information Management, National Dong Hwa University (NDHU) dan akan berangkat pada September 2023 mendatang.

“Saya bercita-cita menjadi akademisi, guru atau dosen. Kalau ada kesempatan nanti setelah S-2 mau lanjut S-3 di sana. Saya berterima kasih kepada pimpinan dan dosen, orang tua, teman-teman semuanya atas dukungannya selama ini,” ujar perempuan yang menuntaskan sarjana dalam 3,5 tahun itu. (red)

Gunakan Semi Organik, Petani Bawang Merah di Banyuwangi Hasilkan 14,2 Ton per Hektar

0

Banyuwangi (pawartajatim.com) – Komoditi unggulan Banyuwangi terus mengisi pasar nasional. Terbaru, bawang merah. Komoditi ini dikembangkan para petani di Kecamatan Wongsorejo. Menggunakan tekhnologi semi organik, petani mampu menghasilkan panen melimpah. Tembus 14,2 ton per hektar.

Saat ini, sebanyak 20 hektar dikembangkan sebagai lahan bawang merah. Luasan ini ditangani sedikitnya 40 orang petani. Mereka mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia, meski belum 100 persen. Sehingga, dikombinasi semi organik. Lahannya ditutup dengan mulsa plastik. Sebelum penanaman, diawali dengan pengapuran lahan. Cara ini   tidak dilakukan pada budidaya secara konvensional.

Dengan pertanian semi organik, hasil panen di atas rata-rata normal. Apalagi, bibitnya menggunakan varietas unggul, jenis Tajuk. Hasil panennya bisa 14,2 ton per hektar. Umumnya, hanya sekitar 11,6 ton per hektar.

Usia tanamnya juga pendek, cepat panen. Varietas ini bisa panen sekitar 65 – 75 hari dengan hasil panen jauh di atas normal.  Jika harga bawang merah sekitar Rp11.000 per kilogram, petani bisa meraup hasil hingga Rp3,12 miliar sekali panen.

Selain Wongsorejo, sentra bawang merah di Banyuwangi juga dikembanhkan di Kecamatan Muncar, Tegaldlimo, dan Srono. ” Dengan hasil ini, kami akan memperluas percontohan pertanian organik ini di sejumlah sentra bawang merah yang lain,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat panen raya bawang merah di Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo.

Selama ini, bawang merah kerap memicu inflasi. Sebab, menjadi komoditi strategis. Harapannya, pengembangan komoditi bawang merah ini bisa mencukupi kebutuhan di Banyuwangi.  “Ini juga sebagai cara untuk mengendalikan inflasi,” tegasya.

Saat ini, luas total lahan bawang merah di Banyuwangi mencapai 1.178 hektar. Hasil panenya mencapai 7.538,4 ton. Kebutuhan warga rata-rata sekitar 4.891,38 ton. ” Kita surplus 2647,02 ton,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ilham Juanda.

Pihaknya memberikan pendampingan khusus bagi para petani bawang merah di Banyuwangi. Mulai bibit, pupuk dan pendampingan pencegahan hama. (udi)

Waspada Pinjol dan Investasi Bodong, Kades se-Banyuwangi Diajari Literasi Keuangan

0

Banyuwangi (pawartajatim.com) – Maraknya kasus pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus merapatkan barisan. Terbaru, para kepala desa (kades) dan lurah se-Kabupaten Banyuwangi diajari literasi keuangan, Kamis (10/8/2023) siang. Kegiatan ini melibatkan penyidik Kepolisian dan Kantor Kementerian Agama (Kemenag).

Para kades ini sengaja disasar pelatihan lantaran menjadi garda terdepan masyarakat. Harapannya, dengan memahami literasi keuangan, para kades bisa menularkannya ke masyarakat masing-masing. “ Para kades ini yang bersentuhan langsung dengan warga. Jadi, kami berikan pemahaman literasi keuangan, sehingga memahami bahayanya investasi bodong dan pinjol ilegal,” kata Kepala OJK Jember, Hardi Rofiq Nasution disela diskusi waspada invetasi dan pinjol ilegal di Banyuwangi.

Survei terbaru,angka literasi keuangan mencapai 49,68 persen. Sedangkan, tingkat inklusi sebesar 85,10 persen. Perbandingannya cukup tajam. Sehingga, pemahaman literasi keuangan layak didongkrak. Kondisi ini salah satu pemicu maraknya kasus masyarakat terjerat investasi bodong dan pinjol ilegal. “ Sekarang, kasus inklusi keuangan sudah menyasar jasa umrah. Jadi, kami gandeng Kemenag untuk ikut memberikan literasi terkait jasa umrah ilegal,” jelas Hardi.

Target dari sosialisasi literasi keuangan ini adalah mengajak para kades waspada dengan jasa keuangan bodong. Sebab, banyak korban dari kalangan masyarakat pedesaan. Rencananya, OJK melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Banyuwangi menggelar sosialisasi keliling terkait literasi keuangan. “ Sasarannya ke desa-desa. Kami ajak para kades dengan menghadirkan para pelaku jasa keuangan,” tutup Hardi.

Sosialisasi literasi keuangan menjadi ilmu baru bagi para kades. Terutama, penanganan ketika ditemukan warga terjerat pinjol ilegal. “ Ini menjadi bahan bagi kami memberikan pemahaman ke warga. Terutama, untuk mencegah terjerat pinjol ilegal,” kata Kades Sraten, Rahman Mulyadi. (udi)

Program Makmur Petro Gresik – SGN Tingkatkan Produktivitas Tebu

0

Gresik, (pawartajatim.com) – Perusahaan plat merah penghasil pupuk ini menjalin kerjasama dengan perusahaan lain untuk tingkatkan produktivitas. Petrokimia Gresik, perusahaan solusi agroindustri bersinergi bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam Program Makmur berhasil meningkatkan produktivitas tebu di Mojokerto.

Peningkatan  hingga 33 persen ini dapat dilihat  pada saat acara “Panen dan Tanam Demonstration Plot (Demplot) Program Makmur” di Desa Jrambe, Kecamatan Dlanggu,  Mojokerto, Jawa Timur/Jatim, Rabu (9/8).

Direktur Utama/Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, menyampaikan bahwa, hasil panen Program Makmur musim tanam 2022-2023 ini mencapai 160 ton per Hektare, atau meningkat sekitar 33 persen dibandingkan produktivitas petani tebu sebelumnya, yaitu hanya 120 ton setiap Hektarnya.

Begitu juga dengan rendemen tebu yang dihasilkan, meningkat dari 7,35 persen menjadi 8,5 persen. “Naiknya produktivitas dan rendemen ini juga meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp 34 juta untuk setiap Hektarnya, dari sebelumnya hanya memperoleh Rp 81 juta menjadi Rp 115 juta per Hektare,” kata Dwi Satriyo.

Dia menambahkan, kerja sama ini juga merupakan upaya dari Petrokimia Gresik bersama stakeholder meningkatkan hasil panen tebu untuk mendongkrak produktivitas gula nasional.

Ia menyampaikan, data Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian menyebut, saat ini masih terdapat gap kebutuhan gula sekitar 850.000 ton untuk gula konsumsi dan 3,27 juta ton untuk gula rafinasi.

Karena itu, perlu adanya kolaborasi dan strategi dalam mencukupi kebutuhan tersebut, melalui ketersediaan bahan baku, dalam hal ini tebu. “Melalui Program Makmur, Petrokimia Gresik beserta seluruh stakeholder terkait, berkomitmen untuk aktif dan bersinergi dalam mendukung peningkatan produksi dan pemenuhan gula nasional,” tambah Dwi Satriyo.

Sementara itu, Petrokimia Gresik mendapatkan penugasan merealisasikan Program Makmur dari Pupuk Indonesia seluas 99.000 Ha. Untuk komoditas tebu, realisasi yang dicapai Petrokimia Gresik hingga bulan Juli mencapai 34.883 Ha.

Realisasi tersebut salah satunya berhasil dicapai melalui kerjasama dengan SGN, seperti di Mojokerto ini. Selain SGN, program Makmur di Mojokerto ini juga melibatkan sejumlah stakeholder penting lainnya, seperti Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Bank BNI, dan sebagainya.

Dengan demikian, program Makmur ini menjadi kolaborasi di antara perusahaan BUMN, sekaligus ekosistem yang saling terintegrasi dan berkelanjutan yang melibatkan stakeholder pada hulu dan hilir bidang usaha pertanian.

Melalui program ini, Petrokimia Gresik menjamin pasokan pupuk komersil kepada petani tebu binaan SGN. Tidak hanya itu, Petrokimia Gresik juga mulai melakukan pendampingan budidaya mulai dari uji tanah melalui layanan Mobil Uji Tanah, hingga penyediaan pestisida melalui anak perusahaan Petrokimia Gresik untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Di tempat yang sama, Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), Mahmudi yang menaungi SGN menyampaikan pihaknya diminta untuk melakukan langkah-langkah dalam upaya meningkatkan produktivitas gula, meningkatkan rendemen dan meningkatkan luas lahan perkebunan tebu.

Langkah tersebut dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan hasil yang optimal, salah satunya melalui kolaborasi Program Makmur. “Senang sekali rasanya, dengan adanya Program Makmur yang telah dijalankan selama dua tahun ini dapat memberikan harapan untuk mewujudkan swasembada gula,” tandas Mahmudi.

Disisi lain, manfaat program Makmur dirasakan langsung oleh Jamal (40) petani dari Kelompok Tani Rosan Jaya yang tergabung dalam Program Makmur di Mojokerto ini. Dirinya mengaku mendapatkan kemudahan untuk kebutuhan pupuk serta akses modal.

“Hasilnya pun memuaskan, dan kami merasakan semua, produktivitas tebu kami meningkat,” ungkap Jamal. Pada kesempatan ini juga dilakukan penanaman tebu menggunakan produk terbaru Petrokimia Gresik yaitu ZA Plus dan NPK Tebu Kebomas Petro Cane.

ZA Plus merupakan produk komersil baru dari Petrokimia Gresik, yaitu pupuk ZA yang diperkaya dengan tambahan unsur hara mikro yaitu Zinc sebesar 1.000 ppm. Sedangkan Petro Cane adalah pupuk NPK khusus tanaman tebu dengan kandungan NPK 15-10-15 yang sesuai dengan kebutuhan tanaman tebu.

Pupuk ini juga diperkaya unsur hara makro sekunder dan mikro lengkap untuk pertumbuhan tanaman tebu. Petro Cane diharapkan menjadi solusi dan andalan petani tebu untuk peningkatan produksi, produktivitas dan rendemen.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesuburan dan menperbaiki kualitas unsur organik di dalam tanah pada kegiatan tanam demplot kali ini juga menggunakan pupuk Petroganik Premium, atau pupuk organik dengan mutu yang lebih premium karena diperkaya makro dan mikro nutrien.

Sehingga, dengan penggunaan Petroganik Premium dapat mengefisienkan proses pemupukan. (dra)

Idap Penyakit Rheumatoid, Siswi SDN Sawotratap Dikunjungi Komunitas Ganjar

0

Sidoarjo, (pawartajatim.com) – Seorang bocah mengidap penyakit cukup langka di Kota Udang. Lebih dari sepekan, Jean Alena, hanya bisa berbaring dan duduk diatas kasur. Dia tak bisa lagi melakukan aktivitas seperti biasanya, termasuk sekolah.

Pasalnya, siswi kelas 2 SDN Sawotratap 1 Sidoarjo itu diketahui terjangkit penyakit Rheumatoid Arthritis. Penyakit Reumatoid Arthritis adalah gangguan inflamasi kronis yang mempengaruhi banyak sendi. Termasuk di tangan dan kaki.

Pada radang sendi, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri. Bahkan, dalam kasus yang parah, penyakit ini menyerang organ internal pada tubuh. Akibatnya, kini Jean tak mampu lagi berjalan. Bahkan berdiri sekalipun.

Gadis kecil ini harus dibopong jika kemana-mana. Terlebih lagi, Jean sudah tak bisa lagi mengikuti pendidikan di sekolah. Menurut Evy Christin, ibunda Jean, anaknya itu sudah kali kedua mengidap penyakit Rheumatoid Arthritis.

Kata Evy, pada usia 2,5 tahun Jean juga terjangkit penyakit yang sama. Kala itu, dokter menyebut bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri, yang masuk melalui tenggorokan. Namun, karena pengobatan yang intens Jean akhirnya sembuh dari penyakit tersebut.

Sayangnya, kebahagiaan Jean tak berlangsung lama. Kini, saat usia Jean tepat 8 tahun, penyakit yang pernah di deritanya itu kembali muncul. Padahal, lanjut Evy, saat ini Jean tengah bersemangat bersekolah.

Jean Alena berharap agar segera sembuh dari penyakitnya. (foto/dra)

“Jadi anak saya pertama kali terjangkit penyakit ini pada usia 2,5 tahun. Kemudian sembuh. Sekarang muncul lagi, dengan keluhan yang sama,” tutur Evy, kepada pawartajatim.com di Sidoarjo Kamis (10/8). Dengan keterbatasan ekonomi, Evy pun sedih dengan kondisi anaknya.

Bahkan untuk berobat ke dokter, Evy harus meminjam kursi roda dari Gereja tempat Evy mengabdikan diri. “Selama ini saya pinjam kursi roda yang ada di Gereja untuk mengantar Jean ke dokter. Saya berharap, Jean bisa kembali pulih seperti semula. Kembali bisa beraktifitas dan bersekolah lagi,” jelas Evy.

Mendengar ada warga yang terserang penyakit cukup kronis ini, Billy Handiwiyanto., SH MH seorang advokat muda Peradi, yang juga tergabung dalam Komunitas Milenial Ganjar/Kolega pun trenyuh.  Apalagi, sejak menderita penyakit itu Jean, tak mampu lagi mengikuti pendidikan di sekolah.

“Iya awalnya kita mendengar kabar soal Jean, yang harus pinjam kursi roda untuk berobat. Akhirnya kita datangi di rumahnya, dan kita bantu sebuah kursi roda. Kita berharap, Jean semangatnya tidak pudar,” kata founder Kolega ini.

Bantuan tersebut, lanjut Billy, merupakan support terhadap Jean. Sehingga, Jean bisa kembali mengikuti pendidikan di sekolah. Termasuk pengobatan rutin ke rumah sakit. Tanpa harus meminjam lagi kursi roda.

“Intinya adik Jean jangan patah semangat menempuh pendidikan. Generasi muda adalah masa depan bangsa,” kata Billy. Selain itu, anak dari advokat senior Dr George Handiwiyanto., SH MH., ini juga memaparkan, bahwa Kolega merupakan komunitas anak muda pendukung Ganjar Pranowo.

Selain bergerak dibidang sosial, seperti pemberian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, Kolega juga memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat, melalui konsultasi hukum gratis di aplikasi Law Law Land. “Ini khan sifatnya komunitas, jadi siapa pun boleh bergabung,” tambah dia. (dra)

Pemuda Mahasiswa Ganjar Gelar Pelatihan Budi Daya Ikan Lele dan Sosialisasi di Mojokerto

0

Mojokerto, (pawartajatim.com) – Pemuda Mahasiswa Nusantara/PMN Wilayah Jawa Timur/Jatim menggelar pelatihan budi daya ikan lele dan sosialisasi kepada puluhan pemuda dan mahasiswa di Panggong Kumpul Kopi, Meri, Kranggan, Kota Mojokerto Rabu (9/8).

Pelatihan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengoptimalkan potensi pemuda Mojokerto dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan. “Kami adakan pelatihan tersebut salah satunya untuk meningkatkan kreativitas dalam mengoptimalkan ekonomi berbasis kerakyatan,” kata Koordinator Wilayah PMN Jatim, Restu Eri Adinanta.

Kegiatan pelatihan dan sosialisasi tersebut para peserta mendapatkan pelatihan tentang bagaimana membuka lapangan pekerjaan dengan membuat budi daya ikan lele dalam kolam yang diperuntukkan untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Pemuda Mahasiswa Ganjar gelar pelatihan budi daya ikan lele dan sosialisasi di Mojokerto Rabu (9/8). (foto/ist)

Dengan pelatihan budi daya ikan lele dalam kolam yang digagas Pemuda Mahasiswa Nusantara Jatim, bertujuan meningkatkan tingkat perekonomian di level masyarakat yang selaras dengan program Ganjar Pranowo.

“Kami ingin pemuda di Mojokerto ini bisa mandiri dan lebih sejahtera, usahanya bisa berkembang selaras dengan program Pak Ganjar Pranowo yang berfokus pada sektor pemuda dan ekonomi,” ujar Restu.

Selain pelatihan budi daya ikan lele, sejumlah mahasiswa serta relawan juga mendapatkan bantuan bibit ikan lele dan bak plastik untuk budidaya okam lele dari Pemuda Mahasiswa Nusantara. Dalam kesempatan tersebut, mereka turut menyosialisasikan sosok Ganjar Pranowo, salah satu bacapres 2024 yang mereka dukung. (rid)

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Diterjunkan Bantu Atasi Stunting

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Ratusan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya diterjunkan untuk membantu mempercepat penurunan angka stunting di Kota Surabaya. Mereka akan mendampingi Kader Surabaya Hebat (KSH) untuk mencapai target zero stunting, hingga Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) tercapai hingga akhir 2023.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, didampingi jajaran pimpinan, kepala dinas, dan kepala rumah sakit pemkot Surabaya mendatangi langsung sivitas akademika FK Unair Surabaya untuk berdiskusi mengenai peningkatan pelayanan kesehatan di Kota Surabaya, terutama penanganan stunting.

Eri Cahyadi mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya meminta bantuan ratusan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya untuk diterjunkan ke kampung-kampung atau RW mendampingi Kader Surabaya Hebat (KSH).

“Tidak hanya dokter muda, semua mahasiswa kedokteran FK Unair akan dikerahkan untuk membantu Surabaya dengan target zero stunting,” kata Eri, Rabu (9/8). Menurut Eri, Tujuan diterjunkannya ratusan mahasiswa kedokteran tersebut, tidak hanya mengurangi kasus stunting yang sudah ada.

Namun, juga mencegah stunting sejak dalam kandungan. Seperti persiapan-persiapan pelayanan USG, pendampingan dokter anak, pendampingan mahasiswa home visit, termasuk di Balai RW.

“Termasuk mendampingi orang tua yang memiliki riwayat darah tinggi dan berpotensi melahirkan bayi stunting,” jelasnya. Dekan FK Unair, Prof Dr Budi Santoso, mengatakan, ada 315 mahasiswa per angkatan.

Jika digabung dengan universitas lain menjadi seribuan yang bisa diterjunkan di puskesmas-puskesmas untuk membantu mengatasi stunting di Kota Surabaya, serta memudahkan untuk menjangkau keluarga stunting yang kurang mendapat pendampingan.

Prof Budi menyebut, selama ini mahasiswa kedokteran FK Unair sudah membantu Pemkot Surabaya. Begitu juga dengan FK di universitas lain yang ada di Surabaya. Namun, diakuinya kegiatan tersebut berjalan sendiri-sendiri.

“Sehingga, diharapkan semua FK di universitas yang ada di Surabaya dapat bersinergi, dan selanjutnya para mahasiswa akan bisa mengontrol keluhan warga sebelum hingga sesudah melahirkan,” terang Prof Bus, sapaan akrab Budi Santoso.

Dari data Dinas Kesehatan Kota Surabaya, pada 2021 angka stunting di Surabaya mencapai 25,8 persen. Namun, pada 2022 turun menjadi 4,8 persen atau terendah se-Indonesia. Ditargetkan pada 17 Agustus 2023 atau bertepatan dengan HUT Ke-78 Republik Indonesia, Kota Surabaya bisa zero stunting atau merdeka dari stunting dan kemiskinan. (red)