Ken Angrok, Perjalanan Mengadu Nasib Hingga Membalik Takdir

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Menyibak kemelut tahta di Istana Singasari. Kerajaan Singasari adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara. Wilayahnya diperkirakan seluas separuh Indonesia sekarang. Tercatat pernah menaklukkan Kerajaan Kadiri di Pulau Jawa, Swarnabhumi di Sumatera dan Kerajaan Bedahulu di Bali.

Pada awalnya Singasari hanyalah sebuah pakuwon yang luas wilayahnya setingkat kecamatan, dipimpin oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian direbut paksa dan diambil alih oleh Ken Angrok dengan cara membunuh Akuwu tersebut dalam sebuah pemberontakan kecil.

Setelah menjadi Akuwu, Ken Angrok mulai mbalelo kepada Kerajaan Kadiri yang merupakan induk dari Pakuwon Tumapel. Bahkan, secara terang-terangan menantang Prabu Dandang Gendis dengan cara melindungi para pemuka agama yang sedang bersengketa melawan Kadiri.

Kemudian Ken Angrok berhasil mengalahkan Dandang Gendis atau Prabu Kertajaya dalam sebuah pertempuran di Desa Ganter sekitar Ngantang Malang sekarang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1222 Masehi. Kemudian Kerajaan Singasari berdiri, menggantikan Kerajaan Kadiri yang telah runtuh.

Ken Angrok yang kemudian bergelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi, menjadi raja dan mendirikan Wangsa/ Dinasti Rajasa menggantikan Wangsa Isyana yang didirikan oleh Pu Sindok sejak jaman Kerajaan Medang hingga Kadiri yang sudah berkuasa ratusan tahun lamanya.

Siapa sesungguhnya Ken Angrok pendiri Kerajaan Singasari yang lahir 1182 Masehi ini ? Kitab Pararaton jelas menyebutkan bahwa dia adalah anak yang tidak dikehendaki kelahirannya. Karena dianggap anak hasil hubungan terlarang antara Ken Ndok, ibunya.

Seorang perempuan cantik dari desa Pangkur, sekitar Tlogomas Malang, dengan penguasa atau setidaknya pejabat yang berkuasa di Tumapel saat itu. Padahal saat itu Ken Ndog adalah istri Gajahpara dari Desa Cempara.

Ada yang menduga bahwa pejabat itu adalah Akuwu Tunggul Ametung yang kelak dibunuh oleh Ken Angrok. Tegal Lalateng, daerah sekitar Dau Malang sekarang, diperkirakan merupakan tempat bertemunya Ken Ndog dan pejabat melakukan paradara/persetubuhan.

Dalam tradisi Jawa anak yang lahir seperti ini disebut Lembu Peteng, atau anak berkasta ksatria. Namun, dilahirkan dari perempuan sudra dan diluar perkawinan. Bayi hasil hubungan gelap tersebut kemudian dibuang di pemakaman daerah Rejasa, Junrejo, Kota Batu, dan ditemukan oleh Lembong, seorang pencuri kenamaan.

Kemudian bayi Ken Angrok diasuh nya hingga tumbuh menjadi seorang anak remaja. Dari orang tua angkatnya ini Ken Angrok belajar cara mencuri dan merampok. Daerah Timur Gunung Kawi merupakan daerah operasi Ken Angrok melakukan aksi pencurian dan perampokan.

Hingga akhirnya dia dijuluki Hantu Padang Karautan. Walaupun namanya menakutkan bagi banyak orang, namun sesungguhnya dia adalah perampok budiman, karna dia selalu membagikan sebagian besar hasil rampokannya itu kepada orang miskin yang membutuhkan, mirip cerita Robinhood dari Inggris.

Kemudian Ken Arok bertemu dengan Bango Samparan  dari Paruman – daerah Tlogomas Malang. Dia dianggap anak oleh Bango Samparan, setiap berjudi selalu diajak, dan dia selalu membawa kemenangan bagi bapak angkatnya itu.

Dirumah Bango Samparan ini, Ken Angrok bertemu pertama kali dengan Tita, salah satu putri Bango Samparan yang kelak menjadi cinta pertama, bahkan kemudian menjadi istri pertamanya. Perempuan itu oleh Ken Angrok dipanggil dengan nama kesayangan, Ken Umang.

“Candi Telih merupakan saksi bisu, tempat Ken Angrok dan Ken Umang bertemu, belajar, serta bercinta untuk bisa melepas kerinduan,” kata Wakil Ketua Bidang Manuskrip Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Jawa Timur/Jatim, Nanang Sutrisno, kepada pawartajatim.com Rabu (17/4/2024).

Karena berkelahi dengan salah satu anak laki-laki Bango Samparan, yang menyebabkan anak itu pingsan. Akhirnya Ken Angrok melarikan diri ke Padang Karautan, tempat Ken Angrok dahulu menjalankan aksinya.

Setelah malang melintang melakukan aksi kejahatannya, akhirnya Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung menyatakan Ken Angrok sebagai penjahat, sehingga dia menjadi pencarian orang bagi prajurit Tumapel dan penduduk.

Seorang Brahmana dari India bernama Dahyang Lohgawe mendapatkan bisikan ghaib untuk mencari dan menyelamatkan Ken Angrok. Kemudian dia mencarinya dan berhasil ditemukan, dan Brahmana tersebut menitipkan kepada Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel, orang paling mencari Ken Angrok untuk menghukum mati penjahat tersebut.

Tampaknya Tunggul Ametung sangat menghormati Brahmana Lohgawe dan menganggapnya sebagai guru. Di Istana Pakuwon Tumapel ini, Ken Angrok benar benar ingin mengadu nasib dan membalik takdir, dia ingin membuktikan bahwa dia mampu menjadi raja di Tanah Jawa sebagaimana yang dikatakan Brahmana Lohgawe gurunya.

Setelah sekian lama mengabdi di Tumapel, akhirnya dia menemukan saat yang tepat untuk membulatkan tekad mewujudkan mimpinya itu. Peristiwa tersingkapnya kain Ken Dedes hingga ke pangkal paha di Taman Boboji membuat Ken Angrok tidak sabar ingin melenyapkan nyawa Tunggul Ametung.

Dalam benaknya, Ken Angrok beranggapan bahwa dengan sekali tindakan, keduanya bisa dimiliki, yaitu Ken Dedes dan tahta Tumapel. Berbekal Keris Gandring yang belum benar-benar sempurna dan dipadukan dengan kecerobohan Kbo Ijo, Ken Angrok berhasil mewujudkan ambisinya untuk memperistri Ken Dedes dan berkuasa di Tumapel.

“Sebenarnya Ken Dedes tahu bahwa Ken Angrok yang membunuh suaminya itu, tetapi Ken Dedes sudah benar-benar jatuh cinta pada Ken Angrok,” jelas Nanang, yang juga kolektor buku sejarah ini. Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi ini bukanlah termasuk orang yang kacang lupa kulitnya.

Pada saat dia berhasil mendirikan Kerajaan Singasari, dia membawa orang-orang yang berjasa semasa perjuangan dulu ke istana dan diberikan jabatan tinggi, antara lain, Brahmana Lohgawe gurunya, anak Mpu Gandring, Anak Kbo Ijo, Lembong, Bango Samparan, termasuk Ken Umang istri pertamanya.

Tampaknya keputusan membawa Ken Umang ke istana membawa prahara berkepanjangan bagi Ken Angrok dan Istana Singasari. Karena Ken Dedes istrinya yang lain tidak mau diduakan, dia memendam kekecewaan yang teramat dalam dan menjadi dendam kesumat.

Sebenarnya Ken Angrok sangat mencintai Ken Dedes, hal ini dibuktikan dengan mengangkat Mahisa Wungatelang anak sulungnya dari perkawinannya dengan Ken Dedes sebagai raja di Daha, dan menyiapkannya sebagai raja pengganti dirinya kelak.

Selain itu Ken Angrok tidak mau mengangkat Anusapati sebagai putra mahkota, karena dia tahu anak Tunggul Ametung tersebut punya kegemaran buruk suka berjudi dan minum minuman keras yang memabukkan.

Tentu saja kebijakan ini menimbulkan sakit hati bagi Anusapati, bahkan Ken Dedes ikut terpengaruh memusuhi Ken Angrok suaminya tersebut. Akhirnya Ken Dedes menceritakan rahasia kematian Tunggul Ametung dan menyerahkan Keris Gandring kepada Anusapati, seakan-akan member perintah untuk menuntaskan dendam kesumat itu.

“Hutang nyawa harus dibayar nyawa, begitu tekad Anusapati dalam hati,” tambah Nanang Sutrisno, yang juga Pimpinan Komunitas Majapahit Bhumi Wilwatikta ini. Menurut Kitab Pararaton Ken Angrok dibunuh oleh orang suruhan Anusapati dari Desa Batil pada Hari Kamis PON, Waktu Landep, Sore hari Tahun 1247 Saka yang bertepatan 1227 Masehi.

Dan kemudian jenasahnya diperabukan serta disimpan di Candi Kagenengan. Nama besar Ken Angrok tetap harum di mata warga Malang dan Jatim. Sebuah patung setinggi enam meter didirikan di depan GOR  Ken Arok  untuk menghormati keberadaan raja besar tersebut. (nanang)

Pemuda yang Hanyut di Sungai di Banyuwangi Ditemukan Tewas

0

Banyuwangi, (pawartajatim.com) – Pemuda bernama Fredyla Ayang Hertanto (26),yang hanyut di Sungai Setail, Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi ditemukan tak bernyawa, Rabu (17/42025) pagi. Tubuh korban tersangkut batuan sungai sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kejadian.

Korban pertama kali ditemukan warga dan tim SAR gabungan yang melakukan pencarian. Awalnya, warga menyisir aliran sungai sejak pagi. Sekitar pukul 08.00 WIB, warga mendapati sebauh benda yang terendam. Setelah dilihat, ternyata tubuh korban. Tim SAR dibantu warga kemudian mengevakuasi korban.

“Jenazah korban akhirnya diserahkan ke pihak keluarga,” kata Kepala Pos SAR Ketapang, Banyuwangi, Wahyu Setia Budi. Dengan ditemukannya korban, proses pencarian langsung dihentikan. Seluruh personel SAR ditarik dan dikembalikan ke satuan masing-masing. Sebelumnya, korban dilaporkan hilang saat mandi di sungai, Senin (15/4/2024) siang.

Detik-detik hanyutnya korban sempat terekam CCTV. Sebelum dinyatakan hilang, korban berpamitan mandi di Sungai Setail di desa setempat. Namun, hingga sore, korban tak kunjung pulang.

Merasa curiga, keluarga melakukan pencarian ke lokasi. Namun hingga malam tak membuahkan hasil. Korban tak kunjung ditemukan.Keluarga kaget setelah melihat rekaman CCTV. Korban terlihat nyamplung ke sungai. Lalu, hanyut. (udi)

Sumur Jobong, Bukti Kemajuan Teknologi Sanitasi Majapahit di Surabaya

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Surabaya adalah kota besar yang memiliki usia lebih dari 700 tahun, kota ini berkembang seiring dengan peradaban kerajaan besar yang menghegemoninya. Seperti Singasari dan Majapahit.

Banyak peninggalan dari kedua kerajaan tersebut yang ditemukan. Antara lain patung, prasasti, makam, dan sumur. Selain patung Joko Dolog dan Prasasti Wurare di Embong Kaliasin, Makam Putri Campa, juga ditemukan Sumur Jobong di Kawasan Peneleh.

Pada akhir Oktober 2018, tepatnya tanggal 31 pukul 18.20 WIB saat dilakukan pekerjaan perbaikan saluran di Jalan Pandean Gang 1 RT 1 RW XIII Kelurahan Peneleh Kecamatan Genteng, tidak sengaja ditemukan sebuah sumur.

Yaitu, Sumur Jobong. Seperti halnya sumur di zaman Kerajaan Majapahit. Sumur berdiameter 83 centi meter tersebut memiliki ketebalan 2,5 centimeter, tinggi 48 centimeter, kedalaman 1 meter, dan bagian sap bawah ukurannya lebih kecil yaitu diameter 69 centimeter, tebal 3 cm, tinggi 49 cm, dengan lapisan dasar berupa pasir.

Airnya sangat jernih dan tidak pernah kering, walaupun disedot dengan mesin pompa air. Kualitasnya sejajar dengan mata air yang digunakan oleh industri air minum kemasan yang terkenal di negeri ini. Seperti layaknya Sumur Jobong di Mojokerto.

Sumur ini memiliki struktur yang sama. Yaitu, lapisan cekungan terdiri beberapa sap dengan material dari tanah liat. Bagian paling atas menggunakan pasangan batu kali yang disusun rapi. Zaman Majapahit, Sumur Jobong dibedakan menjadi 2.

‘’Yaitu di permukiman penduduk dan di bangunan peribadatan,” kata Wakil Ketua Bidang Manuskrip Badan Kebudayaan Nasional (BKN), Nanang Sutrisno, di Surabaya Rabu (17/4/2024).

Kerajaan Majapahit memang dikenal sebagai Kerajaan yang memiliki teknologi tinggi dibidang tata pengelolaan air. Banyak bangunan air yang didirikan pada zaman itu. Mulai dari bendungan, waduk, candi patirtan, kanal, drainase, hingga sumur.

Semuanya sudah menggunakan teknologi canggih di zamannya. Ditemukannya Sumur Jobong dan tulang belulang manusia, yang setelah diuji karbon di laboratorium Australia, ternyata diperkirakan berusia ratusan tahun pada zaman Kerajaan Majapahit.

Hasil pemeriksaan DNA, menunjukkan kesamaan dengan DNA yang dimiliki oleh keluarga juru kunci Sumur Jobong tersebut. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa Kampung Pandean dan Kawasan Peneleh adalah kawasan tua pada zaman Kerajaan Majapahit.

Diperkirakan pada masa itu, kawasan yang terletak diantara dua sungai ini merupakan wilayah padat penduduk yang memiliki keistimewaan tersendiri. Diperkirakan Ujung Galuh ada disini. Dulu merupakan daerah yang menjadi tempat tinggal para jawara yang bertugas menjaga kawasan sekitar bandar Pelabuhan.

‘’Jadi, semacam kawasan ekonomi khusus,” jelas Nanang, yang juga mantan anggota DPRD Kota Surabaya era 1999-2004. Menurut Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 Masehi dan Kitab Negarakertagama yang ditulis tahun 1365 Masehi, ada beberapa desa di tepian Sungai Brantas di Surabaya yang disebut Naditira Pradeca yang pernah dikunjungi Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk.

Kawasan Peneleh diduga adalah salah satunya. Pemerintah Kota Surabaya telah memfasilitasi pembangunan Sumur Jobong, dengan membuat pintu bulat dari lempengan baja. Serta membuat tempat inspeksi yang dihubungkan dengan tangga.

Sehingga memungkinkan pengunjung untuk masuk dan mengambil airnya. Selain tamu pengunjung umum, baik domestik maupun mancanegara, banyak juga pelaku spiritual yang melakukan ritual di tempat ini. Mereka membakar dupa atau kemenyan untuk mencapai hasrat yang diinginkan.

“Menurut beberapa ahli spiritual, disini energinya besar sekali,” tambah nanang, yang juga mengelola komunitas Majapahit Bhumi Wilwatikta ini. Ia bercerit, pernah suatu ketika ada orang yang mengambil air dari tempat ini, katanya hendak digunakan untuk persyaratan ritual doa keselamatan bangsa dan negara bersama segenggam tanah keramat dan air suci dari tempat lain di Indonesia. (nanang)

Khalbi di Pendopo Agung Kabupaten Malang Dihadiri Ribuan Peserta

0

Malang, (pawartajatim.com) – Halal bihalal di Kabupaten Malang membludak. Bupati Malang HM Sanusi, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, Ketua DPRD Kabupaten Malang Darmadi, Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana, Dandim 0818 Kabupaten Malang-Batu Letkol Inf Yuda Sancoyo, dan Kajari Kabupaten Malang Rachmat Supriady yang menyalami satu per satu aparatur sipil negara/ASN yang hadir dalam khalal bihalal dengan ribuan peserta tradisi lebaran Idul Fitri.

Bupati Malang HM Sanusi, menyampaikan bahwa kegiatan khalal bihalal sebelumnya adalah kegiatan rutin setiap tahun yang sempat ditiadakan saat pandemi Covid-19, dan baru dilanjutkan hari ini. Bupati bersama Wabup mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.

‘’Karena saya tahu pemerintah Kabupaten Malang banyak kekurangan, banyak kesalahan utamanya kepada seluruh ASN dan masyarakat di Kabupaten Malang, banyak agenda maupun program yang belum terpenuhi,” kata Bupati Sanusi, di Malang Selasa (16/4).

Acara tersebut digelar di pendopo Agung Kabupaten Malang. Menurut kepala bagian umum Sekda Sovie Nuralam S,STP, saat di lokasi acara menyampaikan kebahagiaannya karena kegiatan yang melibatkan ribuan orang berjalan dengan lancar.

“Kami bahagia karena kegiatan yang menghadirkan seluruh elemen, berjalan lancar dan khidmat dalam pelaksanaannya,” ujar Sovie. Menurut keterangan salah staf bagian umum persiapan kegiatan tersebut sudah dipersiapkan tidak kurang dua hari sebelum acara.

“Keberhasilan dan kebahagiaan acara ini tidak lain untuk menghormati tamu serta berbagi kebahagiaan lebaran untuk masyarakat Kabupaten Malang,” tandasnya. (a ely)

Ritual Meras Gandrung, Tradisi Wisuda Penari Gandrung Banyuwangi

0

Banyuwangi, (pawartajatim.com) – Tak mudah menjadi penari Gandrung Banyuwangi. Mereka harus melewati sejumlah proses untuk mendapatkan label sebagai penari. Salah satunya, ritual meras Gandrung. Upacara ini menjadi penanda seorang penari sudah lulus, lalu diwisuda.

Karena bukan menjadi ritual rutin, tradisi meras Gandrung mulai dijadikan pertunjukan. Bentuknya sendra tari. Kegiatan ini menjadi salah satu even wisata paling ditunggu di Banyuwangi. Karena unik, banyak memikat wisatawan.

Sendratari meras Gandrung merupakan pementasan kolosal para penari gandrung. Kesenian ini menggambarkan prosesi perjuangan seorang penari mengatasi tantangan dan ujian.

Sehingga, bisa lulus menjadi penari Gandrung. Atraksi para penari ini makin memikat saat digelar di Taman Gandrung Terakota, Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Kawasan ini menyuguhkan pemandangan eksotik Gunung Ijen.

“Siapapun yang ingin tahu tentang Gandrung, datang saja ke  Taman Gandrung Terakota. Tidak hanya sendratari, tapi bisa melihat banyak patung Gandrung serta cerita tentang Gandrung itu sendiri,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Selain menjadi atraksi wisata, tardisi meras Gandrung mempertahankan dan melestarikan budaya Banyuwangi. Wisata berbasis budaya ini yang membuat keunikan di Banyuwangi. (udi)

Pemuda yang Hilang di Sungai di Banyuwangi Diduga dalam Kondisi Mabuk

0

Banyuwangi, (pawartajatim.com) – Penyebab hanyutnya seorang pemuda di sungai Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi sedikit terungkap. Diduga, korban yang bernama Fredyla Ayang Hertanto (26), dalam kondisi mabuk minuman keras (miras).

Hal ini dibenarkan Kapolsek Purwoharjo AKP Budi Hermawan. Hasil keterangan sejumlah saksi, saat  kejadian, korban dalam kondisi mabuk. Sebelum nyemplung ke sungai, korban bermain di tepian bersama satu temannya. Setelah itu, korban masuk ke air dan hanyut.

“Hasil keterangan saksi, korban dan temannya sama-sama mabuk ketika bermain di pinggir sungai,” kata Budi, Selasa (16/4/2024). Beberapa jam setelah kejadian, polisi baru mendapat laporan.

Bersama warga, polisi melakukan penyisiran di sekitar lokasi hingga malam hari. Hasilnya nihil. Korban tak kunjung ditemukan.  “Begitu mendapat laporan, kami langsung melakukan penyisiran. Sampai siang ini masih berlanjut,” tutupnya.

Sebelumnya, korban dilaporkan hilang saat mandi di sungai. Detik-detik hanyutnya korban sempat terekam CCTV. Sebelum dinyatakan hilang, korban berpamitan mandi di Sungai Setail di desa setempat.

Namun, hingga sore, korban tak kunjung pulang. Merasa curiga, keluarga melakukan pencarian ke lokasi. Namun hingga malam tak membuahkan hasil. Korban tak kunjung ditemukan.

Keluarga kaget setelah melihat rekaman CCTV. Korban terlihat nyamplung ke sungai. Lalu, hanyut. (udi)

Sidak RSUD Blambangan, Bupati Ipuk Soroti Antrean Pasien

0

Banyuwangi, (pawartajatim.com) – Panjangnya antrean pasien di RSUD Blambangan, Banyuwangi mendapat sorotan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Pejabat ini mendorong RS plat merah itu menerapkan pendaftaran digitalisasi. Sehingga, mengurangi penumpukan pasien. Sorotan itu diungkapkan Bupati Ipuk usai sidak di RSUD Blambangan, Selasa (16/4/2024).

Menurut Ipuk, sistem digitalisasi pendaftaran harus diterapkan. Sehingga, pasien di layanan poli tidak datang bersamaan. “Sebenarnya sudah ada sistem pendaftaran digitalisasi. Tapi, belum dimanfaatkan. Ini perlu sinergi dan kesadaran warga untuk ke digital,” jelas orang nomor satu di Banyuwangi ini.

Jika digitalisasi diterapkan, harapannya, pasien poli bisa datang sesuai jam antrean. Sehingga,tidak menumpuk bersamaan di RS. “Jadi, warga tidak datang pagi-pagi. Tapi, sesuai jam antre di pendaftaran digital,” tegasnya lagi.

Terkait kondisi ini, pihaknya akan mulai melalukan uji coba penggunaan digital untuk mengurangi antrean. Selain pasien, pembatasan pembesuk dan pengantar juga harus dibatasi. “Jangan sampai RS hanya bagus di pelayanan, tapi juga nyaman bagi pasien,” ujar Ipuk.

Tak hanya RS, di hari pertama masuk kerja, Ipuk juga menggelar sidak  di puskesmas. Salah satunya, Puskesmas Kertosari. Ipuk menyoroti sejumlah fasilitas puskesmas juga kurang memadai. Toilet salah satunya.

“Nantinya, digitalisasi tak hanya di RS, tapi dari hulu ke hilir mulai puskesmas,” tutupnya. Meski menyoroti sejumlah kekurangan, Ipuk memberikan apresiasi kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang tidak ada libur Lebaran.

Sehingga, layanan kesehatan ke masyarakat tidak terhenti meski musim libur panjang. (udi)

Terekam CCTV, Seorang Pemuda di Banyuwangi Hilang Terseret Arus Sungai

0

Banyuwangi, (pawartajatim.com)- Seorang pemuda asal Purwoharjo, Banyuwangi dilaporkan hilang saat mandi di sungai. Korban Bernama Fredyla Ayang Hertanto (26), warga Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo. Detik-detik hanyutnya korban sempat terekam CCTV,

Sebelum dinyatakan hilang, korban berpamitan mandi di Sungai Setail di desa setempat. Namun, hingga sore, korban tak kunjung pulang. Merasa curiga, keluarga melakukan pencarian ke lokasi. Namun hingga malam tak membuahkan hasil. Korban tak kunjung ditemukan.

Keluarga kaget setelah melihat rekaman CCTV. Korban terlihat nyamplung ke sungai. Lalu, hanyut. “Kejadiannya, Senin (15/4/2024) siang. Karena tak kunjung ditemukan, keluarga melapor ke Pos SAR,” kata Kepala Pos SAR Ketapang, Banyuwangi, Wahyu Setia Budi, Selasa (16/4/2024).

Dari rekaman CCTV tak jauh dari lokasi, korban terlihat sendirian. Sementara kondisi air sungai tampak deras, airnya keruh. Korban berlari, kemudian terjun ke sungai. Dia sempat beberapa menit bermaian air. Sejurus kemudian, korban berenang. Namun, tubuhnya terbawa arus yang mengalir. “ Kami sudah terjunkan tim pencarian ke lokasi,” tegas Wahyu.

Bersama warga dan SAR gabungan, pihaknya menyisir aliran sungai tempat hilangnya korban. Sebuah water rescue juga diterjunkan. “Cuaca di lokasi cerah. Harapannya, korban bisa segera ditemukan,” tutupnya. (udi)

Hikayat Ken Dedes, Air Mata Ardhaneswari dari Panawijen

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Perjalanan hidup permaisuri tak putus dirudung malang. Tumapel adalah nama sebuah pakuwon (Setingkat Kecamatan) dibawah pimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Kertajaya yang berkuasa pada 1194-1222 M.

Akuwu Tunggul Ametung (yang berarti Tongkat Pemukul) masih termasuk keluarga dekat dari prabu Kertajaya yang memiliki nama lain Dandang Gendis, sebagai Akuwu dia sering melakukan blusukan untuk memantau wilayah kekuasaannya.

Menurut Prasasti Warundungan yang bertahan 865 Saja, saat mengunjungi wilayah desa Panawijen, dia melihat seorang gadis cantik putri seorang Brahmana Budha Mahayana yang bernama Mpu Purwa.

Perempuan itu bernama Niken Dedes atau dikenal dengan Ken Dedes, wajahnya tidak hanya cantik rupawan, kulitnya pun bersih menawan, karena tiap hari merawatnya dengan lulur, sebagaimana kebiasaan putri brahmana waktu itu.

Nafsu Tunggul Ametung sudah memuncak di ubun ubun, dia segera memaksa Ken Dedes untuk mau diajak untuk diajak ke Keraton Tumapel untuk diperistri olehnya. Namun Ken Dedes menolak, bahkan perempuan itu meminta agar sabar menunggu dan meminta ijin lebih dahulu pada Mpu Purwa ayahnya yang sedang bertapa.

Ken Dedes marah karena Tunggul Ametung telah bersikap kasar, bahkan  merudapaksa, kemudian melarikan dirinya keatas kuda dan membawanya ke Tumapel. “Harga diri Ken Dedes sebagai seorang brahmani hancur, sebagaimana bunga bunga yang dibawanya untuk sembahyang tercampak di tanah,” kata Wakil Ketua  Bidang Manuskrip Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Jawa Timur/Jatim, Nanang Sutrisno, di Surabaya Senin (15/4).

Mpu Purwa marah besar ketika tahu bahwa anaknya diculik oleh pembesar Tumapel yang kebetulan penganut agama lain, hingga akhirnya mengeluarkan supata atau kutukan berdarah. Sementara Ken Dedes di Tumapel hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang harus menjadi seorang istri dengan cara yang jauh dari kelayakan dan kepatutan.

Baginya dia sama sekali tidak bahagia menjadi istri seorang penguasa, bahkan perempuan itu terus menerus berdoa agar Dewata mengirim seseorang yang dapat membayar lunas sakit hatinya itu. Akhirnya muncul sosok Ken Angrok (berarti Pendobrak) yang merupakan seorang pimpinan pasukan pengawal Akuwu dan keluarganya, karena sering bertemu, akhirnya tumbuh perasaan saling mencintai diantara mereka.

Hingga tibalah saat yang merubah sejarah, dimana di Taman Boboji, Ken Angrok melihat kain Ken Dedes tersingkap oleh angin besar dan terlihat bagian betis hingga ke atas, terlihat ada seberkas cahaya yang muncul.

Dari penuturan gurunya Brahmana Lohgawe, Ken Arok akhirnya tahu bahwa Ken Dedes adalah sosok perempuan Ardhaneswari yang menurunkan raja raja besar. Sebagai seorang bekas penjudi, pencuri, perampok yang berpengalaman, langsung terbersit keinginan untuk memiliki perempuan cantik istri junjungan nya tersebut

Berbekal Keris Gandring, dan memanfaatkan Kbo Ijo, Ken Angrok menghabisi Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tidur disamping Ken Dedes di kamar tidur mereka. Ken Dedes yang melihat kejadian tersebut langsung menangis histeris, namun setelah dia mengetahui pelakunya adalah Ken Angrok kekasihnya.

Apalagi dia teringat perlakuan Tunggul Ametung saat menculiknya dulu, akhirnya tangis itu berubah menjadi senyum kebahagiaan. “Ken Angrok mengawini Ken Dedes saat perempuan itu sedang hamil tujuh bulan,” jelas Nanang Sutrisno, yang merupakan penggiat sejarah ini.

Setelah melahirkan Anusapati yang merupakan putra Tunggul Ametung, Ken Dedes melahirkan beberapa anak untuk Ken Angrok yaitu Dewi Rimbu Mahisa Wunga Telang, dan Guhning Baya. Pada tahun 1222 Masehi, melalui pertempuran di Desa Ganter di sekitar Wlingi, daerah Blitar sekarang, Pasukan Tumapel yang dipimpin Ken Angrok berhasil mengalahkan prajurit  Kediri dan rajanya, kemudian menjadikan Kediri menjadi bawahan Tumapel.

Pada awalnya kehidupan Ken Arok dan Ken Dedes harmonis dan bahagia, namun semuanya menjadi berubah, saat Ken Angrok membawa seorang perempuan bernama Ken Umang, yang ternyata  adalah istri yang dikawini oleh Ken Angrok jauh sebelum mengenalnya.

Perasaan cinta lambat-laun menjadi benci, dan dendam. Dimata Ken Dedes, kelakuan Ken Angrok jauh lebih buruk dari Tunggul Ametung, pengorbanan yang dia lakukan hingga Ken Angrok menjadi raja seperti sekarang ini seakan akan tidak dihargai sama sekali.

Berdasarkan Prasasti Mula Malurung tahun 1255 Masehi pernikahan Ken Angrok dan Ken Umang dianugerahi empat orang anak, yakni Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi.

Ketidaksukaan Ken Angrok kepada Anusapati yang merupakan anak Tunggul Ametung, ditunjukkan saat mengangkat putranya, Mahisa Wungatelang yang bergelar Batara Parameswara sebagai raja di Daha, disusul adiknya Ghuningbaya, yang kemudian dilanjutkan oleh Panji Tohjaya yang merupakan putra Ken Umang.

Sebagai seorang ibu, perasaan Ken Dedes menjadi hancur saat Anusapati putranya menangis di pangkuannya. Dia mengeluh sebagai anak sulung dia merasa diperlakukan tidak adil, tahta Daha yang seharusnya pantas menjadi miliknya justru diberikan kepada adik adiknya

Akhirnya Ken Dedes menjadi terpancing, dia menceritakan tentang keadaan sebenarnya, bahwa Anusapati bukan putra Ken Angrok, melainkan putra Tunggul Ametung. Dan Ken Angrok lah yang membunuh Tunggul Ametung.

Pikiran Ken Dedes yang sudah diliputi perasaan cemburu dan dendam, mendorong perempuan itu untuk menyerahkan keris Gandring yang pernah dipergunakan untuk menghabisi riwayat  Tunggul Ametung, seakan akan dia menyuruh anaknya untuk membunuh Ken Angrok.

Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitu prinsip Anusapati. Menurut Pararaton, pada kamis pon waktu landep, senja atau sore hari 1169 Saka bertepatan 1247 Masehi,  dengan menggunakan tangan seorang pengalaman, Anusapati menghabisi nyawa Sang Rangga Rajasa Batara Awarmubhumi, dan kemudian dinyatakan meninggal saat sedang menyantap hidangan di meja makan.

Kematian suaminya itu, membuat perasaan Ken Dedes menjadi campur aduk antara perasaan sedih dan gembira. Dia tidak membayangkan jika kedua suaminya tersebut harus berpulang dengan cara yang tragis.

Anusapati akhirnya menjadi raja menggantikan Ken Angrok, namun rupanya dendam kesumat diantara keluarga Wangsa Rajasa itu tidak berhenti. Di sebuah arena sabung ayam, Panji Tohjaya menuntaskan hutang nyawa tersebut, dan Anusapati meninggal dihabisi oleh Panji Tohjaya dan pendukungnya. Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada tahun 1171 Saka atau 1249 Masehi

Ken Dedes hanya bisa terdiam saat menyaksikan suami dan anak-anak suaminya saling bunuh berebut tahta kerajaan. Sebagai seorang brahmani yang linuwih dan memiliki kemampuan untuk menerawang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, perempuan itu hanya bisa pasrah menjalani takdirnya.

Karena dia bisa merasakan peristiwa bunuh membunuh anggota keluarganya ini belum selesai, keris Gandring itupun masih ingin menghirup darah keluarganya. “Terlihat jelas dibenak Ken Dedes, bahwa tidak lama lagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka cucunya akan membalas  kematian Anusapati dan menghabisi Tohjaya,” tambah Nanang yang juga kolektor buku sejarah ini.

Kesedihan demi kesedihan yang dirasakan oleh leluhur raja-raja tanah Jawa ini, akhirnya memaksanya untuk segera meninggalkan alam madyapada atau alam tengah menuju nirwana yang merupakan alam keabadian melalui jalan moksa.

Sejarah tidak pernah mencatat secara jelas bagaimana akhir riwayat permaisuri yang selalu dirudung malang ini, ada yang mengatakan bahwa Ken Dedes akhirnya masuk ke sebuah sumur dan menghilang disana.

“Orang hanya bisa menggambarkan sosok Ardhaneswari ini melalui sebuah patung indah yang ditemukan di sekitar candi Singasari,” pungkas alumni Unair ini. Patung tersebut pernah dibawa ke Belanda pada tahun 1819, dan dipajang di salah satu museum di Kota Leiden.

Namun, karena desakan pemerintah Indonesia, pada tahun 1978 dikembalikan ke Indonesia. (nanang)

Saat Hotel Quest Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim Piatu

0

Surabaya, (pawartajatim.com) – Bulan suci Ramadhan yang ditunggu-tunggu para umat muslim telah tiba. Seluruh umat muslim di dunia menyambut dengan gembira. Selama satu bulan penuh berpuasa, diikuti dengan kegiatan mengumpulkan amal kebaikan.

Kegiatan ibadah berlanjut hingga datangnya Hari Idul Fitri. Yaitu, hari kemenangan tanda kembali ke fitrah-Nya. Momen indah nan sakral ini juga dimanfaatkan Quest Hotel Darmo untuk berbagi kebahagian kepada anak-anak dari Yayasan Ibnu Sina Kertajaya.

Mereka bergabung bersama staff untuk melakukan beberapa kegiatan di dalam rangka 1 Syawal 1445 Hijriah. Anak-anak dari Yayasan Ibnu Sina ini dipimpin oleh Ustadz Hamzah dan Ustadz Nunung, datang ke Quest Hotel Darmo-Surabaya.

Kedatangan mereka dijemput oleh staff. Kemudian bersama-sama dan berbahagia. Senyum ceria merekah di wajah anak-anak. Kegiatan diawali dengan sambutan singkat oleh General Manager/ Hotel Quest, Arditha Dewantari dan Ust Nunung selaku pengurus Yayasan Ibnu Sina.

“Setiap tahunnya kami selalu berupaya untuk memberikan kebahagiaan kepada orang sekitar sebagai wujud syukur juga utamanya di momen Ramadhan ini,” kata Arditha Dewantari, kepada pawartajatim.com, Senin (15/4/2024).

Acara dilanjutkan dengan kegiatan fun activity bersama anak-anak dengan membagikan pengalaman serta ilmu memasak langsung dari Food & Beverage Manager, Agus Nurjana dan Pastry Cook, Jessika. Menu yang dibuat adalah Ham Sandwich dan Es Campur Suka-Suka.

Terlihat anak-anak sangat antusias untuk membuat hasil masakannya sendiri. Acara juga dimeriahkan dengan beberapa games yang berkaitan dengan Ramadhan dan Muslim, seperti tebak ayat.

Hari ini sebuah menjadi momen yang bahagia tidak hanya bagi Yayasan Ibnu Sina melainkan bagi staff Quest Hotel Darmo Surabaya yang berkenan menyisihkan waktu dan rezekinya berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Acara ditutup dengan ceramah dari Ust Hamzah dan pembagian santunan serta makan bersama. Harapan dari kegiatan ini adalah dapat menjadi sebuah refleksi bagi staff dan banyak orang untuk selalu berbuat baik kepada sesama. (nanang)